Sabtu, 24 September 2011

Pavo Muticus

posting diubah.
Intinya gue harus ikut forsil (forum silaturahmi) BKKMTKI di FT UNTIRTA Cilegon. Jadi, rencananya gue bakal berangkat bareng 3 senior gue naik kendaraan pribadi salah satu dari mereka. Tetapi pas hari H mereka bertiga fix batal ikut. Keadaan terburuk adalah gue udah janji ke atasan gue untuk dateng acara tersebut. Apa boleh buat, mau ga mau harus berangkat.
Paginya, di sms
ka, baju BKKMTKI saya ilang -__-
ga pake baju BKK juga gapapa ko. ga usah jadi alasan deh.
iyadeh kakaaak. gue berangkat niih -__-

Yap, jadilah gue berangkat sendiri. Acaranya dimulai jam 10.00, sedangkan gue baru berangkat dari rumah jam 11-an. Melihat waktu yang sudah ga mungkin dikejar, gue terpaksa naik motor ke Graha Cijantung. Setidaknya hal tersebut mengirit ongkos. Karena parkir di dekat Graha hanya dua ribu seharian. Selanjutnya naik angkot ke Kampung Rambutan.

Nah di sini lah gue salah perhitungan. Ternyata dari Graha Cijantung ke kampung Rambutan bisa memakan waktu hampir setengah jam. Sekitar jam 12.00 pun akhirnya gue baru sampe Kp Rambutan. Habit gue yang jarang naik hamilatun umum, maka gue ga tau di Kp Rambutan mau ngapain. Sedikit info: terminal Kp Rambutan tuh sepi, karena orang-orang lebih memilih menunggu di dekat pintu masuk tol atau sejenisnya. Hal tersebut untuk mencegah kejahatan yang ada di Kp rambutan.
lanjut ke cerita, gue baru tau hal tersebut. Jadi, baru sekilas gue liat hamilatun jurusan Kp Rambutan - Pavo Maticus. Cuma gue tinggal sholat dzuhur sebentar, hamilatun itu pergi tanpa pamit. Hiks

Setelah sholat, gue iseng-iseng mencari toko minuman, niatnya sih bukan untuk beli minuman, tetapi untuk mencari tempat duduk. Selang beberapa lama, bus jurusan Pavo Maticus dateng lagi. Gue samperin abang-abangnya.
Bang, lewat UNTIRTA ga?
... lewat.
Harga berapa bang?
Dua puluh ribu.
20 x 2 = 40. Oke, langsung gue naik. pulang pergi ga nyampe lima puluh ribu. padahal gue dikasih ongkos dua ratus ribu. Senangnya hatikuu :D

Di hamilatun enaknya ngapain? Sayang banget gue ga bawa gitar. Seandainya bawa, mungkin gue bakal ngamen biar bisa lebih irit. Bicara soal ngamen, ternyata gue lupa bawa duit receh. Cukup berbahaya ketika anda naik angkutan umum tanpa bawa receh. Siap-siap aja dicaci sama pengamen. Setiap ada pengamen yang lewat, gue dengan sungguh-sungguh menolak dengan wajah lebih menyedihkan dari pengemis. Kan ga lucu jika menyerahkan duit dua puluh ribu ke pengamen terus gue bilang, kembalian ya bang.

Ternyata Cilegon jauh. Pukul empat sore gue baru sampai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar