Kamis, 28 Juli 2011

Wanita di Seberang Jalan

Boleh aku bertanya satu hal?

Apa?

Mengapa engkau hadir semenjak aku menginjakkan kaki di SMA?

Siapa bilang?


Hah? Terus sejak kapan?

Semenjak kau mengenal apa itu wanita.


Apaan sih -__-

Masih kah engkau ingat masa-masa SMP mu?


Yah, mulai deh. Iya inget . .

Ingat kah engkau tentang wanita yang banyak dibincangkan oleh teman-teman mu.


Iyaa. Jangan mulai deh -__-

Sebenarnya aku sudah hadir semenjak saat itu. Semenjak kau merasa penasaran, betapa wanita tersebut dapat menarik perhatian kaum mu. Pada saat itu lah kau bertanya. Seindah apakah wanita. Hidupmu yang semenjak kecil dilingkungan muslim. Kemudian masa SMP yang dikarantina tanpa mengenal apa itu wanita.


Sial banget sih gue .

Ya begitulah. Selamatlah karena engkau memiliki bekal yang cukup untuk menopang pertanyaanmu itu. Masih ingatkah engkau ketika engkau melihat fotonya. Ketika darah dalam dirimu mulai berdesir. lalu apa yang kamu pikirkan?


Ya ya ya. Saya merasa pernah melihatnya.

Indah bukan? Sebenarnya itu hanya kiasan dari pikiranmu yang mulai berkembang, buku-buku yang kau pelajari, cerita-cerita yang kau dengar. Baik dan buruk. Serta dari matamu yang melihat para kerabatmu yang memiliki raut wajah beragam. Wajahnya indah bukan?


Sangat indah. Meskipun aku tak mengenalinya.

Kemudian selang beberapa hari kemudian, kau menemukan wajahnya di koran. Kemudian engkau memotongnya dan meletakkan di dalam binder ke sayanganmu.


Itu sih foto artis yang mirip dengan dia.

Pada akhir tahun ajaran, betapa banyak wanita yang kau lihat. Tetapi hanya satu yang mengalihkan perhatianmu. Pada saat itu, engkau pun tak tahu mengapa.


Cukup menggelikan. Dia muncul dengan seenaknya seolah tidak tahu apa-apa. Tidak peduli apa yang ada disekelilingnya.

Mulai saat itu, caramu berfikir mulai terlatih. engkau meng-copy sifat yang dia miliki. Engkau dapat meng-copy sifatnya. Meskipun hanya sekali berjumpa. Yaitu sifat, ketenangan yang nyata. Pada kemudian hari, engkau bertemu lagi, kali ini di seberang jalan ketika engkau hendak pergi. kau menatapnya sekilas, tetapi mencoba untuk tidak peduli.


Ya iyalah. Siapa dia? siapa gue? Kenal aja engga.

Yang cukup membuat dadamu sesak adalah dia mucul dengan tenangnya dan duduk di bangku belakang bus yang kamu tumpangi. Kemudian, kamu mulai salah tingkah meskipun sekali-kali melirik ke arahnya. Sayangnya dia tak peduli. Seolah tak ada apa-apa.


Ahaha. Ampun deh . .

Yang lebih menghebohkan, engkau tidak pernah menyangka, bahwa tempat tujuan yang ingin kalian capai itu sama. Aku ingat ketika itu engkau benar-benar tidak dapat berfikir sehat. Pada saat sampai di tempat tujuan, dipikiranmu hanyalah lenyap dari pandangannya. Tetapi takdir berkata lain, bagaimana handphone yang akan kamu pakai ternyata low dan sontak engkau berkata kepadanya, "minjem hape dong".
Anehnya, dengan lembut ia menyodorkan miliknya kepada dirimu. Saat-saat yang menegangkan bukan?

Itu sih biasa aja. Hanya saja aku masih tidak mengerti mengapa aku dapat melakukan hal tersebut secara spontan.

Itulah dirimu. Matamu spesial. Seolah-olah engkau merasa telah mengenalnya lama, dan engkau pun seolah-olah akrab dengannya hingga ia dengan spontan menyodorkan handphonenya kepada anda. Tapi takdir seolah menertawakanmu. Sontak temanmu menolak pemberian handphone yang hampir engkau raih. Perkenalan pun tidak terjadi. Pada saat itulah kau berkata,

"Jadi itu yang namanya wanita." Huh. Makasih deh atas nostalgianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar